RSS

TAHLILAN DAN SELAMATAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I

20 Jan

Tahlilan dan Selamatan merupakan dua kata yang selalu menjadi perdebatan diantara para ulama, ada yang memperbolehkan ada juga yang mengharamkan. akan tetapi, orang yang melakukan justru kebanyakan tidak mengetahui dasar hukumnya apakah itu boleh atau tidak. Mereka hanya tahu bahwa itu sebuah tradisi yang selalu dilakukan secara turun-temurun dari para pendahulu mereka. Dan mayoritas, mereka yang melakukan adalah para pengikut madzhab Imam Syafi’i.

Mereka mengaku bermadzhab Syafi’I tanpa pernah tahu pandangan-pandangan beliau dan bagaimana beliau memutuskan sebuah masalah.

Berikut dipaparkan mengenai TAHLILAN dan SELAMATAN secara lengkap yang penulis ambil dari blog sebelah..

BAB PERTAMA

TAHLILAN (MENGIRIM PAHALA BACAAN KEPADA MAYIT)

….Berikut ini penulis bawakan sejumlah pendapat Ulama-ulama Syafi’iyah tentang masalah dimaksud, yang penulis kutip dari kitab-kitab Tafsir, Kitab-kitab Fiqih dan Kitab-kitab Syarah hadits, yang penulis pandang mu’tabar (dijadikan pegangan) di kalangan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i.

Pendapat Imam As-Syafi’i rahimahullah.

Imam An-Nawawi menyebutkan di dalam Kitabnya, SYARAH MUSLIM,

“Adapun bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi…. “

Sedang dalilnya Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, yaitu firman Allah (yang artinya), ‘Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri’, dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya), ‘Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo’a untuknya (mayit)”. (An-Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90).

Juga Imam Nawawi di dalam kitab Takmilatul Majmu’, Syarah Madzhab mengatakan. “Artinya : Adapun bacaan Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb, menurut Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim”. (As-Subuki, TAKMILATUL MAJMU’ Syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426).

(menggantikan shalatnya mayit, maksudnya menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhum semasa hidupnya -pen).

Al-Haitami, di dalam Kitabnya, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, mengatakan:

“Mayit, tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama’ Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirmkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman Allah (yang artinya), ‘Dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri”. (Al-Haitami, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, juz 2, hal. 9).

Imam Muzani, di dalam Hamisy AL-UM,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya amalan adalah untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain”. (Tepi AL-UM, AS-SYAFI’I, juz 7, hal.262).

Imam Al-Khuzani di dalam Tafsirnya

“Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, bahwa bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi”. (Al-Khazin, AL-JAMAL, juz 4, hal.236).

Di dalam Tafsir Jalalaian

“Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari hasil usaha orang lain”. (Tafsir JALALAIN, 2/197).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR’ANIL AZHIM mengatakan

(Dalam rangka menafsirkan ayat 39 An-Najm). “Artinya : Yakni, sebagaimana dosa seseorang tida dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga menusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri,dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 An-Najm), Imam As-Syafi’i dan Ulama-ualama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak sampai, karenabukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat, dan tidak ada seorang Sahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut, kalau toh amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat”.

Demikian diantaranya pelbagai pendapat Ulama Syafi’iyah tentang TAHLILAN atau acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, yang ternyata mereka mempunyai satupandangan, yaitu bahwa mengirmkan pahala bacaan Qur’an kepada mayit/roh itu adalah tidak dapat sampai kepada mayit atau roh yang dikirimi, lebih-lebih lagi kalau yang dibaca itu selain Al-Qur’an, tentu saja akan lebih tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.

Ditulis kembali oleh Yayat Ruhyat.

[Disalin dari buku Tahlilan dan Selamatan menurut Madzhab Syafi’i, oleh Drs Ubaidillah, hal. 8-15 terbitan Pustaka Abdul Muis – Bangil, tanpa tahun]

PENDAPAT KE-EMPAT IMAM MADZHAB Tentang “BACAAN QUR’AN BUKAN UNTUK ORANG MATI”

Madzhab Imam ABU HANIFAH

Di dalam kitab fiqih Madzhab Hanafy halaman 110 disebut “ Membaca Qur’an dikuburan orang mati itu hukumnya makruh, menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad, karena perbuatan ini termasuk BID’AH, tidak terdapat dalam sunnah Rasul.

Madzhab Imam AS-SYAFI’I

Menurut pendapat Imam Syafi’I, bahwa ganjaran bacaan Qur’an itu tidak akan sampai kepada orang mati. Alasan yang dipakai oleh beliau adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala di surat An-Najam: 39, yang berbunyi : “Dan seseorang itu tidak akan mendapat melainkan hasil usahanya” (Q.S. An-Najam: 39).

Seperti juga dalam sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Apabila seseorang anak Adam meninggal, putuslah amalnya melainkan tiga perkara, sedekah jariyah atau ilmunya yang dimanfaatkan atau anak yang sholeh mendo’akannya” (HR. Muslim)

Imam Nawawi pensyarah hadist Muslim didalam penjelasannya mengenai hadist tersebut, beliau berkata: “Adapun bacaan Qur’an kemudian ganjarannya dihadiahkan kepada orang mati, atau menggantikan sholatnya dan lain-lain ibadat, kesemuanya itu tidak akan sampai kepada orang mati”.

Pendapat ini yang termasyur menurut Imam Syafi’I dan jumhur ulama. Penjelasan ini banyak terdapat dalam Syarah kitab Muslim oleh Imam Nawawi sendiri.

Di dalam Syarah kitab Manhaj, Imam Nawaei berkata : “Menurut pendapat yang masyhur di dalam madzhab Imam Syafi’I, sesunggguhnya bacaan Qur’an itu ganjarannya tidak akan sampai kepada orang mati.”

Syekh Izzu bin Abdis Salaam pernah ditanya pendapatnya, “Bagaimana hukumnya menghadiahkan ganjaran bacaan Qur’an kepada orang mati, apakah sampai atau tidak ??”

Beliau menjawab : “Ganjaran bacaan itu hanya untuk orang yang membaca, bukan untuk orang lain”. Kemudian beliau berkata : “Tetapi alangkah anehnya masih ada ulama yang membolehkannya. Alasan mereka ialah sebagai satu kebijaksanaan dan juga supaya tidak tidur (berjaga) di rumah orang mati. Alasan demikian itu bukan merupakan suatu alasan yang berdasar kepada agama, tetapi merupakan alasan yang dibuat-buat. Hal yang demikian ini tidak boleh dijadikan sebagai satu hujjah.” [1]

Note [1] :

Ironisnya, ada sekelompok orang yg merasa sebagai bagian dari pengikut Madzhab Imam Syafi’I yang fanatik sekali, tetapi tidak mau mengikuti pendapat Imam Sayfi’I, khusus yg satu ini, atau dengan kata lain mereka tidak mau mengikuti pendapat Imam Syafi’I yang menganggap bacaan

Qur’an untuk orang mati adalah tidak sampai.

Madzhab Imam MALIK

Syekh Ibnu Abi Jumrah pernah berkata : “Sesungguhnya bacaan Qur’an dikuburan orang mati itu termasuk perbuatan BID’AH, bukan sunnah Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam”. Ucapan tersebut dalam kitab Al-Madkhal.

Syekh Ad-Dardiiry didalam kitab As-Syarhus Shagir Juz : I halaman 180 menerangkan bahwa “Bacaan Qur’an disisi orang mati atau sesudahnya, diatas kuburannya termasuk perbuatan yang dibenci oleh Islam karena bukan merupakan perintah Alloh Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, atau bukan pula menurut perjalanan para sahabatnya, dan juga bukan menurut perjalanan para ulama salaf. Sesuatu yang wajar dikerjakan oleh orang yang masih hidup terhadap salah seorang Muslim ialah mendo’akan dan memintakan maghfiroh untuknya.”

Madzhab Imam AHMAD BIN HAMBAL

Imam Ahmad bin Hambal pernah melihat seorang yang sedang membacakan Al-Qur’an diatas kuburan, maka beliau menghardiknya dengan ucapan :

“Alangkah anehnya orang ini, ketahuilah bahwa bacaan Qur’an di kuburan adalah termasuk perbuatan BID’AH”.

Ibnu Taimiyah pernah berkata : “Ada beberapa orang yang meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal : “Bahwa membaca Qur’an di kuburan itu termasuk perbuatan yang DIBENCI oleh agama. Demikian pulan pendapat para ulama salaf dan para sahabat Imam Ahmad.”

Ibnu Taimiyah : “Membaca Qur’an diatas orang mati itu termasuk perbuatan BID’AH. Berlainan dengan membaca Surah Yaasin atas orang yang hampir mati (sedang Naza’I, ingat bukan yang sudah mati, red), hal ini termasuk sunnah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata : “Bukan suatu kebiasaan (adat) bagi para ulama Salaf menghadiahkan ganjaran puasa-puasa sunnah, sholat-sholat sunnah, haji ataupun bacaan Qur’an atas orang mati. Justru karena itu tidak patut kita melakukan sesuatu amal yang tidak pernah mereka kerjakan.”

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab Zaadul Ma’aad Juz I halaman 146 menjelaskan bahwa “Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam tidak pernah beri contoh untuk BERKUMPUL-KUMPUL dirumah orang yang kematian serta membacakan ayat-ayat Qur’an untuk mereka yang telah meninggal. Amalah demikian ini bukanlah sunnah hukumnya, tetapi termasuk perbuatan BID’AH yang dibenci oleh agama.” [2]

Adapun riwayat yang berbunyi : “Bacalah Yaasin atas orang mati diantara kamu”, riwayat ini tidak boleh dijadikan hujjah untuk membolehkan bacaan Yaasin, karena derajatnya TIDAK SAH. Riwayat ini dikatakan Ma’lul (berpenyakit), sedang sanadnyapun dikatakan Mudl-tharib dan ada rawi yang Majhul. Dengan demikian menjadikan riwayat ini sebagai satu alasan boleh membaca Yaasin atas orang mati TIDAK DAPAT DITERIMA.

Menurut Imam Al-Fairuz Baadiy : “Bacaan Qur’an untuk orang mati itu hukumnya BID’AH YANG TERCELA dalam agama.”

Note [2] :

Dalam masalah berkumpul-kumpul di rumah orang mati, marilah kita perhatikan pendapat dari para ulama sebagai berikut :

1. Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah kitab Muhadz-dzab Juz V : halaman 286 baris ke-12 dan seterusnya : “Adapun berkumpul-kumpul di rumah orang kematian, kemudian mereka mengadakan makanan dan minuman untuk orang yang berkumpul-kumpul itu, maka perbuatan itu tidak syak lagi adalah termasuk BID’AH, karena tidak ada satupun riwayat yang menerangkan bahwa pada zaman Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam pernah terjadi hal-hal yang demikian itu.

Alasan yang kita dapati dalam larangan berkumpul-kumpul dan memakan makanan di rumah orang keamtian ialah hadist Jabir bin Abdillah dimana beliau berkata: “Kami [para sahabat] menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga si mati, dan mereka mengadakan makanan sesudah penguburan, adalah termasuk meratap [atas orang mati].” (HR Ahmad).

Di dalam kitab Majmu Juz V : halaman 287 baris ketiga dikatakan bahwa Ibnu Mundzir berkata : “Kami telah meriwayatkan dari Qais bin Ubad : “Adalah para sahabat Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam tidak senang berteriak-teriak dalam tiga hal, pada waktu bertempur, pada waktu berada di sisi jenazah, dan pada WAKTU BERDZIKIR.”

Hasan Al-Bashri meriwayatkan suara mereka dari sahabat Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam: “Bahwa mereka lebih suka merendahkan suara mereka di waktu mengantar jenazah, di waktu MEMBACA QUR’AN dan di waktu perang.”

Di dalam kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’I, Juz I : halaman 247 baris ke-9, beliau berkata : “Aku lebih senang kalau para tetangga atau kerabat dari keluarga yang mati itu membuatkan makanan untuk mereka (keluarga si mati) pada hari dan malam kematiannya, karena perbuatan itu termasuk sunnah.”

Pada halaman 248 baris ke-6 Imam Syafi’I berkata : “AKU SANGAT BENCI TERHADAP ORANG-ORANG YANG SUKA BERKUMPUL-KUMPUL DI RUMAH ORANG MATI, WALAUPUN MEREKA ITU TIDAK MENANGIS ATAU MERATAP, KARENA PERBUATAN MEREKA ITU TERMASUK MEMPERBAHARUI MASA BERKABUNG”

Di dalam kitab Al-Madkhzl Juz III : halaman 228 baris ke-21 dikatakan bahwa Imam Syafi’I dan kawan-kawannya berpendapat : “Adapun berkumpul-kumpul di rumah orang mati kemudian keluarga si mati mengadakan makanan untuk mereka, hal ini tidak ada satupun riwayat yang diriwayatkan dari Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam yang membolehkannya. Perbuatan ini TIDAK termasuk perbuatan yang terpuji, bukan pula Mustahab.”

Di halaman 289 baris ke-16 dikatakan bahwa Azhar bin Abdillah pernah berkat: “Barang siapa yang mengadakan makanan karena Ria atau untuk dipuji, maka perbuatan ini Alloh Subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkan kita untuk mengahdirinya, sedang makanan yang dikeluarkan itu tidak akan dibalas oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala dengan memberi tambahan rizki pada yang mengeluarkannya. Apakah perbuatan ini termasuk walimah perkawinan atau khitan dan lain-lain. Oleh sebab itu hendaklah lebih berhati-hati didalam beramal, dan jangan sekali-kali dicampur dengan semua perbuatan yang sia-sia yang banyak berlaku di sekeliling kita.”

Demikian pula amalan-amalan yang tidak ada contohnya dari Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam misalnya mengadakan makanan pada tiga hari dari kematian seseorang.

Kesimpulan: Ke-empat Imam Madzhab berpendapat sama bahwa BACA’AN QUR’AN ADALAH BUKAN UNTUK ORANG MATI, DAN PERBUATAN TERSEBUT TERMASUK BID’AH DAN TERCELA.

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.

Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)

KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

TENTANG

KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi r terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

§ REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

§ CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

Related Post : ………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………..

More at : Kisah-Kisah Sahabat

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 20, 2011 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: